Desember 2010, beberapa bulan setelah erupsi Merapi yang mengakibatkan sedikitnya 353 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Jalan-jalan lagi ke Yogyakarta. Sering kemari tapi gak mboseni (padahal yo baru beberapa kali). Kerja di luar kota pas akhir tahun, pada saat orang-orang pas pengen liburan, kok rasane gak enak bener. Untung deket kampung, bisa balik sabtu minggu.
Kaliurang setelah erupsi menunjukan wajah yang compang-camping, sangat jelas perbedaannya. Kawasan wisata yang dulunya hijau penuh pepohonan, tiba-tiba sekarang kering, walopun ini cuma sebagian, tapi cukup mengurangi keindahannya. Air terjun yang dulunya debit air lumayan besar menjadi kecil. Timbunan material vulkanik berupa pasir yang belum sempat dibsersihkan. Tak cukup banyak wisatawan yang berada di Kawasan Kaliurang, mungkin wisatawan luar kota lebih tertarik menuju dukuh tempat Mbah Maridjan tinggal, Kinahrejo. Kami tak sempat ke dusun Kinahrejo, karena kondisi jalan yang kecil dan kemungkinan terjebak macet karena banyak rombongan bus pariwisata dari luar kota Yogyakarta yang lumayan besar memenuhi jalan menuju dukuh tersebut.
Kawasan kaliurang termasuk kawasan berhawa sejuk, jalan menuju kawasan ini lumayan ramai kala weekend. Sepanjang jalan menanjak cukup banyak jajanan/makanan khas yang dijajakan, dan yang paling terkenal yaitu jadah tempe. Banyak warung yang menjajakan jadah tempe sepanjang jalan menuju Kaliurang. Kami sempat mampir ke salah satu warung. Menu yang ditawarkan jadah (olahan dari ketan), tahu/tempe bacem, untuk minuman terdia kopi, teh dan jeruk. Cocok disantap pada hawa dingin, karena panganan tersebut masih hangat. Kalo di tempat lain ada juga makanan olahan dari ketan, mungkin variasi penyajian saja yang beda, seperti ketan susu, wajik dan lainya.
Turun kebawah sedikit, masih tentang makanan, terdapat semacam pujasera, FoodFezt. FoodFezt adalah semacam tempat makan seluas 1.400 meter persegi dengan kapasitas 300+ orang, terletak di kawasan Jalan Kaliurang. Dibangun dengan konsep outdoor dan garden atmosphere, parkir yang luas, dipenuhi dengan berderet stall yang terseleksi dengan spesialisasi makanan masing-masing, serta difasilitasi dengan free wi-fi. FoodFezt dirancang sebagai tempat makan dan nongkrong yang tenang, tidak mencolok, dan akrab, tetapi berkelas (copy paste dari website yang empunya warung). Malem minggu kami mencoba makan malam disini, lumyan bingun mencari tempatnya karena agak masung gang. Tempat lumayan luas, suasana lebih nyaman, dan harga lumayan lebih mahal dari makanan sejenis di tempat lain. Mungkin karena jualan tempat dan suasana juga, jadi lebih mahal. Cocoknya si disini dateng berdua saja, sama calon istri/istri (kalo punya, hahahaha). Kalo sendirian atau sama temen laki mah, mlongo.
Malem minggu juga cocok ke Alkid (alun-alun kidul), ini lapangan emang gak pernah sepi (kecuali udah mau subuh kali ya). Sehabis maghrib, sampi hampir tengah malam, masih banyak warga/wisatawan yang nongkrong disini. Dari sekedar ngobrol, ngopi, ngewedang ronde, atau naik becak hias muterin lapangan. Tarif sewa becak hias sekitar 25ribu (dan yang gak masuk akal, udah bayar, ngegowes sendiri lagi).
Lain kali ke Yogja menjelajah wilayah selatan, mulai Parang tritis, Parang kusumo, dan sekitaran Gunung Kidul.

No comments:
Post a Comment