Friday, 21 March 2014

Tilang Gak Tilang

Share pengalaman buat teman-teman yang mungkin sedang apes, pas di jalan raya sedang asyik-asyiknya di malam hari mengendarai sepeda motor sambil melanggar rambu-rambu lalu lintas, eh tiba-tiba ada Polisi lalu lintas yang menghadang laju sepeda motor teman-teman dan langsung main cabut kunci kontak motor.

Kejadian ini pas Jumat malam, sehabis makan-makan di Kaleyo Rawamangun bersama teman kantor, jam 10 malem kami balik ke rumah masing-masing. Kebetulan kami berdua dengan dua motor beriringan pulang ke aras Senen. Semua lancar-lancar saja sampe pas kami sama-sama melanggar rambu lalu lintas, masuk jalur cepat untuk putar balik pada tempat yang tidak semestinya. Agak aneh di depan kok ada kelap-kalip tongkat yang ada lampunya. Ahhhhh, apes dah ini ada razia. Karena yang merazia di jalan kebetulan cuma berdua, dan temen aku yang tadi sama-sama bisa mengelak, aku pilih berhenti (sedikit penasaran mau ditilang berapa). Sesuai prosedur si perazia menyetop, mengambil kunci otor, minta surat-surat kendaraan, SIM. Setelah di periksa si perazia menyebutkan semua kesalahan yang telah aku lakukan, mulai dari melanggar rambu jalur cepat, STNK mati dan TNKB mati. Tersebutlah angka nomimal tilang 470ribu dengan konsekuensi motor ditahan. Busyet, ini angka dari mana, tanyaku, kemudian si perazia membuka buku dan menunjukan jenis pelanggaran dan nominal denda maksimalnya.

Si perazia terus menerus menekan supaya tilang, sidang tanggal 28 Maret atau kapan aku bisa sidang. Di sinilah kebohongan-kebohongan itu terjadi. Mulai dari tidak tahu ada rambu larangan, rumah di depok, tak punya waktu buat sidang, tak punya uang, susah kerja kalo motor ditahan, dan segala macam lagi (semoga diampuni). Si perazia terus juga menekan sambil terus ngomel sana sini menyalahkan. Dan dijawab juga dengan kebohongan-kebohongan sambil sedikit pasang muka memelas.

Sekitar 10 menit si perazia gak sukses menekan, dan dengan kebohongan yang tadi ternyata si perazia mulai frustasi juga, mulai menawarkan titip sidang lah, nanya mauku gimana lah. Tapi tetep bersikeras gak mau ditilang, kalo mau tilang yang jangan bawa motornya. Lama ngobrol dengan rekannya, akhirnya tiba-tiba hati bapak si perazia luluh juga, di kembalikan semua kunci, STNK dan SIM. Gagal ditilang. Dalam hati aku bingung juga, ini gimana si? kok bisa? Mungkin jawabnya pada pada si perazia aja yang tahu. Yang penting bebas. Hahahahahaha....

Langsung ngacirrrrrr...

Sampe rumah gak langsung sujud syukur, tapi masih mikir, kenapa si perazia cuma bertiga? Kenapa gak jadi tilang? Kenapa yang satu (sepertinya komandannya) malah asyik ngobrol dengan dua perempuan di sebrang jalur lambat?

No comments:

Post a Comment