Monday, 24 March 2014

Jokowi - Ahok : Jakarta Baru (Baru Setahunan Udah Mau Kabur)

Ini murni pendapat pribadi yang tak pernah ikut dalam pemilihan umum kecuali untuk pertama kalinya mempunyai hak pilih.

Jokowi resmi dideklarasikan sebagai Capres dari PDIP, menesampingkan ambisi Megawati yang memang diprediksikan sedang galau antara maju atau diam. Maju, publik sudah tak empati lagi, diam berarti mati. Akhirnya menjelang dimulainya musim kampanye parpol pada pemilu 2014, Jokowi resmi dideklarasikan, dengan istilah mandat dari Ketum.

Jokowi kita tahu saat ini masih menduduki jabatan sebagai Gubernur DKI yang dimenangkan melalui pemilu 2 putaran mengalahkan sang incumbent, Foke. Berpasangan dengan Ahok, Jokowi kala itu sukses mengambil simpati sebagian warga DKI. Janji-janji politik, pencitraan oleh media dan track record sebagai walikota Surakarta turut melambungkan nama Jokowi. Tanpa mengesampingkan prestasi Ahok.Setahun lebih setelah resmi menjabat Gubernur DKI, Jokowi akhirnya seperti menelan ludah sendiri. Beberapa waktu lalu media sering bertanya kepada Jokowi apakah akan maju sebagai Capres, dengan lantang dijawab "gak mikir 3x"' "fokus DKI dulu". Ah, tai kucing, pikir sebagian orang waktu itu, pasti Capres juga. Dan benar-benar terjadi.

Tak bisa dipungkiri, sejak Jokowi menjabat sebagai Gubernur cukup banyak usaha dan perubahan yang dilakukan. Bisa dilihat dari mulai urusan birokrasi, pasar, pemukiman kumuh, waduk, transjakarta, sekolahan, kesehatan tak luput dari tangan dingin Jokowi. Namun semua itu masih belum semuanya terselesaikan, ibarat kita main sepak bola, baru main 5 menit, masih menjajaki kekuatan dan kelemahan lawan. Belum ada hasil konkrit yang bisa dirasakan oleh penduduk DKI. Macet di DKI masih saja menjadi makanan sehari-hari, banjir masih melanda, transportasi masal belum bisa digalakkan, bus trans jakarta masih karatan (ngisin-ngisini). Ok lah disini saya menghargai usaha Jokowi, namun mbok yao mandan mikir sitik, hasilnya belum ada apa-apanya.

Kalo boleh dibilang juga Jokowi ingkar janji terhadap warga DKI, terutama pemilihnya. Dalam sumpah jabatan pun jelas masa kontrak Jokowi-Ahok bersama warga DKI, 5 tahun. Walaupun Jokowi belum tentu terpilih sebagai Presiden, namun hal ini sudah merupakan indikasi kuat. PDIP membela dengan mengatakan bahwa berdasarkan survei, 69% warga DKI setuju Jokowi maju sebagai Capres, artinya hampir sebagian besar warga DKI merestui Gubernur mereka untuk menjadi RI 1. Tapi itu cuma survei, dan yang mengatakan pun pihak PDIP. Sudah menjadi rahasia umum, survei bisa dibayar, mana ada survei gratis. Mau hidup dari mana lembaga survei itu? 

Dalam pandangan pihak PDIP, dengan Jokowi menjadi Presiden, maka tidak hanya warga DKI saja yang merasakan kinerja dari Jokowi, bahkan seluruh rakyat Indonesia bisa merasakannya. Halooo...... Seakan-akan Jokowi ini dewa, lebih superior dari pemimpin daerah lainnya. Ingat, hierarkis kepemimpinan. Gubernur/Bupati/Walikota jangan diabaikan, jangan menganggap mereka inferior dan ditutupi oleh sosok Presiden. Sangat sombong jika PDIP beralasan demikian.Strategi pencapresan Jokowi juga bisa saja dimanfaatkan oleh elit PDIP untuk mendongkrak perolehan suara PDIP. 

Tentunya PDIP tak ingin 15 tahun menjadi oposan di parlemen. Jokowi saat ini sudah mulai menjadi Jurkam PDIP di daerah-daerah. Strategi Jitu. Terbukti ketika Megawati mengunjungi Yogyakarta, yang ditanyakan masyarakat Yogja " Mana Pak Jokowi?". Patut dikaji juga apa strategi Megawati dibalik Pencapresan Jokowi. Apakah memang Megawati telah menjadi negarawan dan Politikus sejati dengan mengajukan Jokowi sebagai Capres dari PDIP atau ada motif-motif lain dibaliknya? Mana kita tahu.

Tapi apa lacur, Jokowi sudah menerima mandat sebagai Capres dengan segala konsekuensinya. Semoga warga DKI lebih legowo dengan majunya Gubernur mereka, dan juga Semoga Jokowi tak menjadi Prseiden kita. Masih terlalu prematur. Tak ada yang istimewa selain pencitraan tiada henti yang dilakukan di media. Kalo boleh usul, mbok ya tunggu nanti saja setelah masa jabatan habis, toh kalo berhasil membangun DKI, rakyat Indonesia tidak buta. Dan Jokowi memiliki nilai lebih dengan berhasilnya membangun DKI. Atau Jokowi sudah angkat tangan alias menyerah dalam membenahi DKI, sehingga beralih ke kursi RI 1, dari pada cuma menduduki DKI 1 yang toh pada nantinya tak akan ada hasilnya yang lebih, mending sikat posisi yang lebih tinggi.

Semoga masih ada pilihan pemimpin selain Jokowi.

Aceh - 2013











Aceh, mungkin baru terkenal di dunia semenjak tragedi gempa dan tsunami yang melanda 'negeri serambi mekah' akhir 2004. Segala mata dan perhatian tertuju di kawasan ini dan juga di asia tenggara dan asia selatan. Thailand, Maldives dan beberapa negara terkena dampak tusnami tersebut. Bencana tersebut seakan menghapus sejarah konflik tiada henti antara GAM dan Pemerintah RI. Tak terdengar lagi berita mengenai konflik tersebut.9 tahun berlalu, pertengahan 2013 mungkin sudah tak ada lagi sisa betapa hancurnya Aceh pada masa itu. Bantuan dari seluruh dunia mengalir, bahkan Pemerintah RI membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias guna mempercepat penanganan pasca bencana.

Setiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, kami langsung menuju tempat penginapan, lumayan jauh dari bandara, sekitar 45 menit menyusuri jalan yang kalo boleh dikatakan mulus untuk ukuran propinsi di ujung Indonesia. Sepanjang jalan tak terlalu banyak lalu lalang kendaraan, masih relatif sepi jika dibanding dengan ibu kota propinsi lain di Indonesia. Taxi disini hanya tersedia di bandara, kalo di jalanan Aceh cukup sulit untuk mencari, kebanyakan adanya bentor untuk transportasi umum di dalam kota Aceh.


Jumat malam, pertama kami Masjid Baiturrahman, terletak di pusat kota, dekat Pasar Aceh. Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M, kelihatan masih berdiri kokoh. Kebetulan pas malam itu sudah tidak ada kegiatan di masjid, praktis hanya beberapa orang yang sengaja mengunjungi masjid sekedar untuk melihat-lihat. Pelataran masjid cukup luas dengan kolam di area taman. Pas malam tesebut masjid sedang dibersihkan, sekitar sepuluhan orang sedang mengepel pelataran masjid. Yang membuat agak kurang nyaman disini mungkin adanya beberapa pengemis yang sengaja meminta-minta. Di jalan sekitar masjid terdapat warung tenda yang mulai menjajakan dagangan mulai selepas ashar. Namun tidak banyak yang khas disini, hanya beberapa warung kopi, mi dan nasi goreng dan sate padang.



Hari sabtu pagi kami sudah merencanakan untuk menyebrang ke Pulau Weh. Dari tempat penginapan berangkat jam 8.30 menuju ke pelabuhan Ulee Lheu. Tiket penyeberangan sebesar Rp60,000,- menggunakan kapal cepat KM Pulo Rondo. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Dan yang bikin ngeri disini, cuaca kadang tak menentu yang mengakibatkan paling ringan si perjalanan kapal menjadi bergejolak, bagi yang gak tahan mabok laut, bisa langsung pening pas turun dari kapal, paling apes ya kapal gak bisa melaut, karena ombak tinggi. Untung pas sabtu pagi ombak lumayan bersahabat.Sampai di KPBS (Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang) kami dijemput kawan kami yang akan jadi guide. Penduduk lokal yang mempunyai darah jawa - batak. Tujuan pertama Kami tentu saja KM 0. Di ujung Pulau Weh. Cuaca lumayan cerah sedikit panas waktu itu, jadi AC mobil seakan gak kerasa.

Perjalanan dari pelabuhan menuju KM 0 bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Jalan berkelak kelok khas pengunungan, namun ini bukan gunung, hanya pinggir pulau yang berbukit-bukit. Jalan kecil sehingga untuk berpapasan dengan mobil lain harus memperlambat laju. Sabang dulu terkenal dengan hasil kelapa, sepanjang jalan banyak terlihat pepohonan kelapa yang menjulang rapi, sengaja di tanam oleh masyarakat Sabang. Menjelang KM 0 suasana sedikit lebih sejuk, karena pepohonan cukup lebat. Satu jam lebih, akhirnya kami sampai di KM 0. Horaiiii. Akhirnya menjejakan kaki juga di Ujung barat Indonesia (tinggal ujung timur, selatan, utara). Cukup ramai juga sabtu siang, gak ada yang istimewa, tapi mungkin karena ini simbol/tugu cukup terkenal jadi banyak orang yang ingin kesini, sekdar poto-poto.

Sekitar 1 jam di kawasan KM 0, puas menikmati pemandangan, puas minum air kelapa, kami pulang menuju Sabang. Kata pemandu kami, Sabang juga terkenal akan spot diving maupun snorkeling. Banyak wisatawan mancanegara yang ke Pula Weh hanya untuk menikmati keindahan bawah laut di Sini. Salah satunya kami ditunjukan salah satu pantai di Pulau Weh, Pantai Iboih. Iboih merupakan daerah favorit untuk berekreasi dan melepaskan penat. Perairan di sekeliling pulau Weh merupakan perairan laut lepas yang diapit oleh Selat Malaka dan Samudra Hindia. Di sekitar pantai Iboih juga terdapat resort-resort dan restoran untuk para wisatawan yang bermalam. Meski tak sempat mencoba untuk sekedar snorkeling, hanya jalan di pantainya saja, namun tak bisa dipungkiri bahwa Iboih itu indah. Bayangkan cuma berenang dibibir pantainya saja karangnya indah banget, ikan warna warni pun banyak berkeliaran. Sayang banget kemaren gak siap-siap buat snorkeling.

Selepas menikmati Pantai Iboih, kami menuju ke Kota Sabang. Gak cukup ramai untuk ukuran ibu kota administratif. Dulu kata orang sini, pelabuhan Sabang ramai bersandar kapal-kapal niaga yang besar, namun sekarang sudah sepi. Tak ada lagi efek dari kebijakan kawasan bebas Sabang. Kalah dengan Batam yang sekarang maju sebagai kota Industri. Setelah makan siang di warung makan (kebanyakan toko di Sabang tutup pada siang hari antara jam 12 s.d. jam 1), kami pulang dengan menumpang KM Pulo Rondo juga. Kali ini di laut cuaca agak bergejolak, terbukti turun dari kapal cepat setiba di Pelabuhan Ulee Lheu langsung pening. Sembari pulang menjuju tempat penginapan kami sempat mengunjungi Kapal PLTD Apung, yang tersapu gelombang Tsunami sampai sejauh hampir 2,5 KM jauhnya dari bibir pantai. Bisa dibayangkan betapa besar gelombang tsunami yang menerjang Aceh, kapal berbobot sekitar 2600 ton bisa terbawa gelombang tsunami. Sayang kami tidak bisa mauk ke dalam, karena jam operasional sudah tutup.

Sedikit saran buat kawan-kawan yang ingin berkunjung ke Sabang, sempatkanlah menginap untuk menikmati Pulau Weh.

Minggu esok pagi, kami sudah janji untuk jalan menyusuri kota Banda Aceh. Ibu Kota Nangroe Aceh Darussalam. Karena ada beberapa alasan, tinggal berdua saja yang keliling Banda Aceh naik bentor. Tujuan utama kami, dan ini satu-satunya yang diketahui, Museum Tsunami. Museum Tsunami Aceh diresmikan mulai senin 10/05/2011 oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf. Bentuknya menyerupai epicenter gelombang laut, terdiri dari 4 tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa islam plus beberapa rajutan saling silang yang mirip tari saman. Museum ini dibangun di atas areal tanah seluas 10.000 meter persegi. Di dalam museum ini banyak terdapat memorabilia terkait dengan tsunami, miniatur tsunami dan juga ada bioskop kecil yang memutar film dokumenter pada saat tsunami menerjang. Banyak banget hal-hal unik terkait tsunami di museum ini, kalo dicritain semua bisa bosen yang baca, datang dan nikmati aja ya...

Di sekitar Museum Tsunami juga terdapat Lapangan Blang Padang. Nah disini ada kapal udara Seulawah. Walapun sekarang hanya berupa sebuah monumen, pesawat Dakota DC-3 RI-001 dengan nama Seulawah yang memang sangat bersejarah. Konon, pesawat yang dibeli oleh rakyat Aceh dan diberikan kepada negara itu merupakan cikal-bakal maskapai penerbangan Indonesian Airways atau yang sekarang dikenal sebagai Garuda Indonesia. Namun, banyak pihak juga yang menolak teori ini dan mengatakan bahwa Garuda Indonesia tidak pernah sama sekali mengoperasikan pesawat Dakota DC-3 RI-001. Tapi yang pasti, Dakota DC-3 RI-001 merupakan sebuah kontribusi rakyat Aceh kepada bangsa Indonesia. Pesawat yang dibeli pada tahun 1948 dibayar menggunakan dana sumbangan berupa 20 kg emas yang dihimpun dari rakyat Aceh. Pesawat dibeli dari seorang penerbangan Amerika Mr. JH Maupin di Hong Kong. Di sekeliling lapangan Blang Padang terdapat tugu nama-nama negara yang telah membantu rakyat Aceh dalam menghadapi masa pasca bencana tsunami dengan ucapan "Terima Kasih dan Damai" dalam bahasa negara tersebut masing-masing.

Di pertengahan minggu setelah kami ke Sabang, pas banget dengan awal bulan puasa. Dan di Aceh ada tradisi unik yaitu Meugang. Tradisi ini di laksanakan 3 kali setahun menjelang puasa ramadhan, menjelang idul fitri dan menjelang idul adha. 2 hari sebelum puasa ramadhan, masyarakat aceh berbondong-bondong ke pasar untuk membeli daging, dimasak, dan dimakan di rumah ramai-ramai bersama keluarga. Cukup unik karena di sepanjang jalan sekitar pasar ada banyak pedagang daging sapi yang berjualan, hampir 2 hari kami melawati jalan yang sama dan setiap pagi selalu ramai pembeli daging. Kami gak sempat mencicipi olahan dagingnya, gak ada yang ngasih.

Mengenai kuliner di Aceh gak terlalu banyak, paling terkenal antara lain ayam tangkap, mi aceh, peuleut (semacam ketan manis dibungkus daun pisang dan dibakar). Tapi yang paling berkesan disini memang kopi. Hampir setiap warga aceh tiada hari tanpa ngopi. Dan kami jadi ketularan seneng ngopi-ngopi di kedai tiap sore. Pulang kantor sekitar jam 5 di Aceh matahari masih terang benderang, masih ada waktu sampai jam 7 malam baru maghrib. Jadi asyik ngopi-ngopi di kedai sambil nunggu maghrib. Kebetulan tempat penginapan kami dekat dengan kedai kopi yang cukup terkenal, Solong dan satu lagi lupa nama kedainya. Hampir tiap sore kami kunjungi. Waktu ramai minum kopi setelah salat Isya/tarawih, pasti kursi kedai kopi penuh, bahkan yang tadinya gak rame, jadi rame. Oiya, ada yang unik disini, martabak telor. Kalo di Jakarta kita kenal martabak telor adonan telornya yang dibungkus kulit martabak, beda dengan di aceh, kulit martabak dipanggang sebentar kemudian adonan telor dilumurkan kedalam kulit martabak yang telah dipanggang tadi.

2 Minggu di Aceh kayaknya masih kurang, padahal sudah merasakan gempa, sampai-sampai SBY sempat datang ke Aceh Tengah (pusat gempa).

Oiya, oleh-oleh juga jangan sampe lupa, Kopi, Dendeng dan lain-lain.

Friday, 21 March 2014

Tilang Gak Tilang

Share pengalaman buat teman-teman yang mungkin sedang apes, pas di jalan raya sedang asyik-asyiknya di malam hari mengendarai sepeda motor sambil melanggar rambu-rambu lalu lintas, eh tiba-tiba ada Polisi lalu lintas yang menghadang laju sepeda motor teman-teman dan langsung main cabut kunci kontak motor.

Kejadian ini pas Jumat malam, sehabis makan-makan di Kaleyo Rawamangun bersama teman kantor, jam 10 malem kami balik ke rumah masing-masing. Kebetulan kami berdua dengan dua motor beriringan pulang ke aras Senen. Semua lancar-lancar saja sampe pas kami sama-sama melanggar rambu lalu lintas, masuk jalur cepat untuk putar balik pada tempat yang tidak semestinya. Agak aneh di depan kok ada kelap-kalip tongkat yang ada lampunya. Ahhhhh, apes dah ini ada razia. Karena yang merazia di jalan kebetulan cuma berdua, dan temen aku yang tadi sama-sama bisa mengelak, aku pilih berhenti (sedikit penasaran mau ditilang berapa). Sesuai prosedur si perazia menyetop, mengambil kunci otor, minta surat-surat kendaraan, SIM. Setelah di periksa si perazia menyebutkan semua kesalahan yang telah aku lakukan, mulai dari melanggar rambu jalur cepat, STNK mati dan TNKB mati. Tersebutlah angka nomimal tilang 470ribu dengan konsekuensi motor ditahan. Busyet, ini angka dari mana, tanyaku, kemudian si perazia membuka buku dan menunjukan jenis pelanggaran dan nominal denda maksimalnya.

Si perazia terus menerus menekan supaya tilang, sidang tanggal 28 Maret atau kapan aku bisa sidang. Di sinilah kebohongan-kebohongan itu terjadi. Mulai dari tidak tahu ada rambu larangan, rumah di depok, tak punya waktu buat sidang, tak punya uang, susah kerja kalo motor ditahan, dan segala macam lagi (semoga diampuni). Si perazia terus juga menekan sambil terus ngomel sana sini menyalahkan. Dan dijawab juga dengan kebohongan-kebohongan sambil sedikit pasang muka memelas.

Sekitar 10 menit si perazia gak sukses menekan, dan dengan kebohongan yang tadi ternyata si perazia mulai frustasi juga, mulai menawarkan titip sidang lah, nanya mauku gimana lah. Tapi tetep bersikeras gak mau ditilang, kalo mau tilang yang jangan bawa motornya. Lama ngobrol dengan rekannya, akhirnya tiba-tiba hati bapak si perazia luluh juga, di kembalikan semua kunci, STNK dan SIM. Gagal ditilang. Dalam hati aku bingung juga, ini gimana si? kok bisa? Mungkin jawabnya pada pada si perazia aja yang tahu. Yang penting bebas. Hahahahahaha....

Langsung ngacirrrrrr...

Sampe rumah gak langsung sujud syukur, tapi masih mikir, kenapa si perazia cuma bertiga? Kenapa gak jadi tilang? Kenapa yang satu (sepertinya komandannya) malah asyik ngobrol dengan dua perempuan di sebrang jalur lambat?

Tuesday, 18 March 2014

Inter Milan dan Argentina - love at first sight


Agak lucu aneh juga menganalogikannya, tapi yasudah gak usah terlalu dipikir panjang. Entah kenapa ketika awal-awal doyan nonton dan main sepakbola, langsung ngefans sama dua tim ini. Argentina dan Inter Milan. Argentina karena pas beranjak mengenal bola pas Piala Dunia Prancis 98. Disitu ada Gabriel Batistuta dkk tidak berdaya cuma menanjak sampai perempat final, dihadang Belanda apa Inggris ya (tapi wikipedia bilang Belanda). Gak apa-apa cuma sampai perempat final. Fans Sejati. Dan Setiap Gelaran Piala Dunia/Olimpiade/Copa America dan lain-lain selalu dukung Timnas Argentina. Gak ada yang istimewa, cuma terlanjur dan keterusan ngefans.


Kalo Inter Milan agak beda sedikit, kasihan ngeliat tim ini gagal juara terus (berdasarkan sejarah). Jadilah Fans. Mulai sekitar tahun 2000 ketika nama-nama seperti Ronaldo dan Zamorano masih menghuni skuad Inter mulai mengikuti perkembangan tim. Bongkar pasang skuad tak jua membuahkan piala. Hampir juara tapi kalah oleh Lazio di pertandingan terakhir jadi dikudeta oleh Juventus, ah sial. Semifinal liga champions eropa yang kontroversial melawan AC MIlan menambah derita klub ini. Atau memang kutukan juga belum terbukti. Sampai pada akhirnya skandal calciopoli merubah peta kekuatan tim-tim di Italia, Juventus, Lazio, dan beberapa klub gurem terkena efeknya. Muncul Inter sebagai kekuatan baru yang kadang kalo nonton Inter kok ya bosen jarang kalah. Scudetto pun diraih juga. Nama-nama seperti Zlatan, Vieira, Materazzi dan kawan-kawan. Puncaknya Piala Champions Eropa pun direngkuh setelah di final menjunggkalkan Bayern Munich. Jelas sosok Mourinho tak bisa dikesampingkan dari sukses besar Inter, terbukti setelah ditinggal Mourinho yang memilih hengkang ke Real Madrid, prestasi Inter melempem.

Tahun 2014 Inter masih dalam tahap pengembangan tim, kita tunggu saja apakah akan mendapat hasil yang maksimal di liga domestik dibawah asuhan Mazzari. Untuk Argentina, patut kita saksikan apakah Messi dkk bisa berbicara banyak di Piala Dunia Brazil Juni nanti.

Bukan berarti saya tak mendukung Timnas Indonesia, cuman, ah sudah lah...

Forza Inter.

Salam Olahraga.

Transformasi CB

B 5822 YK
Inilah motor legendaris tunggangan lelaki sejati, Honda CB 100. Biar jadi lelaki harus punya ini motor, haha. Punya ini motor mungkin kalo diingat-ingat gara-gara kerasukan arwah orang yang pernah punya ini motor, setelah nyoba motor ini tiba-tiba langsung pengen punya. Padahal ya, duit cekak, maklum baru merasakan kerja setahunan. Tapi memang sudah diujung kepengen, ibarat kata seperti wanita hamil, ngidam.

Perburuan dimulai. Setelah tanya sana tanya sini, eh lama juga nyari motor yang seperti kemauan yang bagus, kinclong, tokcer, murah. Terlalu banyak kemauan, tapi duit gak ada. Segala macem website jual beli online paling gak tiap hari pasti dibuka, langsung search "cb 100". Setahunan nyari akhirnya hampir putus asa juga, terhitung hampir 3 kali lebih mendatangi yang jual mulai di Depok, Cipinang, Rawasari, Bintaro dll. Gak ada yang cocok, atau mungkin kalo kata orang tua belum jodohnya. Hampir lama gak nyari lagi, karena udah bosen juga cuma lihat-lihat, akhirnya nemu juga yang agak cocok (sedikit termakan rayuan setan), lokasi di Pamulang. Honda CB 100 tahun 1973 aka CB Gelatik Putih. Sekilas si oke.

Setelah sebelumnya janjian lihat barang, berangkatlah berdua dengan Bapaknya Aqil. Kebetulan Bapaknya Aqil lebih tau dukanya punya CB. Pagi-pagi sudah menjemput Bapaknya Aqil untuk menuju ke Pamulang. Sampe lokasi, gak pake nyasar, langsung ketemu orang, lihat barang, deal harga, bayar bawa pulang. Ini yang gak abis pikir, kenapa tiba-tiba langsung tertarik sama ini motor, wong kondisinya pun gak lebih baik sama yang kemarin disurvei (pajak telat, nomor polisi mati, yang punya entah orang mana, dan teknis lainnya yang kadang bikin nangis kalo diinget). Ah sudahlah, yang kayak gitu sepertinya gak enak buat diinget, nikmati saja tunggangan baru.

Beberapa bulan make ini motor, agak naik dikit gengsinya. Motor Keren. Pulang pergi kantor, jalan-jalan sore masih enak-enak saja. Lama-lama satu persatu masalah muncul dan bikin motor nginep di parkiran kantor ber bulan bulan. Butuh upgrade nih kayaknya. Upgrade pertama agak nanggung juga, ganti shock breaker depan belakang. hasilnya kurang memuaskan, membuat nginep lagi di parkiran kantor, gak sampe ber bulan bulan, tapi sampe lamaten aka dibuat rumah laba-laba.

R 5101 BF
Transformasi kudu dilakukan, surat-surat diberesin habis sekitar 1jt. Nah sektor mesin agak susah nih, sempet lama nyari bengkel yang oke buat rebuild motor, akhirnya nemu juga di sekitar kosan. Lumayan lah nyambung pas upgrade CB. Setelah diskusi macem-macem akhirnya disepakati juga harga 4,5 juta untuk upgrade. Lumayan juga pengerjaan motor, hampir 2 bulan, karena banyak juga pelanggan motor-motor biasa yang mbengkel disitu, walhasil harus sabar nunggu CB jadi. Lama nunggu akhirnya kelar juga, CB yang dulunya warna putih sekarang merah, lumayan lebih rapih tampilannya  daripada sebelumnya. Makin kece nih motor, tapi namanya motor tua, ada aja lah dikit-dikit rewel minta ini itu. Pernah nambah lagi upgrade shockbreaker depan, habis sekitar 1jt :nangis.

Dua tahun lebih menemani banyak duka dan duka dari mulai ndorong dari kantor sampe kosan, nunggu hujan reda karena gak bisa menerjang hujan (mogok) dan lain-lain. Lama-lama tak terurus juga, lebih 6 bulan menghiasi parkiran kantor, akhirnya lemah juga hasrat merawatnya. Berikan kepada yang muda biar merawat. Kirim ke rumah di Cilacap biar adik laki-laki yang merawat. Praktis hanya pas pulang bisa jalan-jalan lagi.

Masih pengen punya CB lagi..... Duitnya mana????????? Kapan kawinnya????????

Yogyakarta 2

Desember 2010, beberapa bulan setelah erupsi Merapi yang mengakibatkan sedikitnya 353 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Jalan-jalan lagi ke Yogyakarta. Sering kemari tapi gak mboseni (padahal yo baru beberapa kali). Kerja di luar kota pas akhir tahun, pada saat orang-orang pas pengen liburan, kok rasane gak enak bener. Untung deket kampung, bisa balik sabtu minggu.

Kaliurang setelah erupsi menunjukan wajah yang compang-camping, sangat jelas perbedaannya. Kawasan wisata yang dulunya hijau penuh pepohonan, tiba-tiba sekarang kering, walopun ini cuma sebagian, tapi cukup mengurangi keindahannya. Air terjun yang dulunya debit air lumayan besar menjadi kecil. Timbunan material vulkanik berupa pasir yang belum sempat dibsersihkan. Tak cukup banyak wisatawan yang berada di Kawasan Kaliurang, mungkin wisatawan luar kota lebih tertarik menuju dukuh tempat Mbah Maridjan tinggal, Kinahrejo. Kami tak sempat ke dusun Kinahrejo, karena kondisi jalan yang kecil dan kemungkinan terjebak macet karena banyak  rombongan bus pariwisata dari luar kota Yogyakarta yang lumayan besar memenuhi jalan menuju dukuh tersebut.

Kawasan kaliurang termasuk kawasan berhawa sejuk, jalan menuju kawasan ini lumayan ramai kala weekend. Sepanjang jalan menanjak cukup banyak jajanan/makanan khas yang dijajakan, dan yang paling terkenal yaitu jadah tempe. Banyak warung yang menjajakan jadah tempe sepanjang jalan menuju Kaliurang. Kami sempat mampir ke salah satu warung. Menu yang ditawarkan jadah (olahan dari ketan), tahu/tempe bacem, untuk minuman terdia kopi, teh dan jeruk. Cocok disantap pada hawa dingin, karena panganan tersebut masih hangat. Kalo di tempat lain ada juga makanan olahan dari ketan, mungkin variasi penyajian saja yang beda, seperti ketan susu, wajik dan lainya.

Turun kebawah sedikit, masih tentang makanan, terdapat semacam pujasera, FoodFezt. FoodFezt adalah semacam tempat makan seluas 1.400 meter persegi dengan kapasitas 300+ orang, terletak di kawasan Jalan Kaliurang. Dibangun dengan konsep outdoor dan garden atmosphere, parkir yang luas, dipenuhi dengan berderet stall yang terseleksi dengan spesialisasi makanan masing-masing, serta difasilitasi dengan free wi-fi. FoodFezt dirancang sebagai tempat makan dan nongkrong yang tenang, tidak mencolok, dan akrab, tetapi berkelas (copy paste dari website yang empunya warung). Malem minggu kami mencoba makan malam disini, lumyan bingun mencari tempatnya karena agak masung gang. Tempat lumayan luas, suasana lebih nyaman, dan harga lumayan lebih mahal dari makanan sejenis di tempat lain. Mungkin karena jualan tempat dan suasana juga, jadi lebih mahal. Cocoknya si disini dateng berdua saja, sama calon istri/istri (kalo punya, hahahaha). Kalo sendirian atau sama temen laki mah, mlongo.

Malem minggu juga cocok ke Alkid (alun-alun kidul), ini lapangan emang gak pernah sepi (kecuali udah mau subuh kali ya). Sehabis maghrib, sampi hampir tengah malam, masih banyak warga/wisatawan yang nongkrong disini. Dari sekedar ngobrol, ngopi, ngewedang ronde, atau naik becak hias muterin lapangan. Tarif sewa becak hias sekitar 25ribu (dan yang gak masuk akal, udah bayar, ngegowes sendiri lagi).

Lain kali ke Yogja menjelajah wilayah selatan, mulai Parang tritis, Parang kusumo, dan sekitaran Gunung Kidul.

Bali 1

Pertengahan 2011, Bali.

Bali, yah ini mah udah biasa banget kalo di critain, semua orang juga udah tau keindahannya. Siapa yang gak kenal Sanur, Kuta, Legian, Pure Taman Ayun, Danau Beratan dan Joger? Jadi gak perlu lah di critain. Langsung saja ke menu favorit nih.

Nasi Pedas Bu Andika lumayan terkenal sekali di Bali. Bahkan wisatawan-wisatawan dari luar kota pun sampai ikut-ikutan mendatangi tempat ini. Lokasinya berada di Jalan Raya Kuta, Gang Kubu 120C, Kuta, Bali, dekat dengan toko Joger. Tempatnya cukup sederhana, hanya menempati emperan sebuah toko elektronic, dengan meja-meja panjang dan kursi-kursi plastik yang ditata rapi (itu 3 tahun lalu, 2013 akhir datang, sudah menempati ruko, masih di samping tempat jualan lama) . Lauk-lauknya ditata di sebuah display kaca, dan menunya banyak sekali. Mulai dari mie goreng, semur daging sapi, perkedel, telur, ayam goreng, sate ayam, kulit ayam, teri kacang, dan masih banyak lagi. Nah yang jadi andalannya adalah Sambalnya yang pedasnya nendang abis. Dilihat sekilas memang seperti warteg, atau nasi rames. Hanya saja banyak orang ketagihan makan disini karena kelezatan lauk dan sambalnya yang nendang tadi itu. Kita langsung memilih lauk-lauknya sesuai dengan selera kemudian pelayannya akan menghitung harganya. Begitu saya makan, wuuih.... bener-bener deh pedasnya nendang abis. Rasa semua lauknya jadi lebih terasa nikmat karena pedasnya sambalnya.

Sabung Ayam, sabung ayam di Bali sudah tradisi dari jaman nenek moyangnya. Kebetulan pas kami ke danau Beratan, sedang ada upacara keagamaan. Setelah putar-putar menikmati danau, dan pure yang gambarnya ada di duit 50ribu itu. di pinggiran danau ternyata lagi ada sabung ayam. Sabung ayam disini sedikit berbeda dengan sabung ayam kebanyakan yang ada di tanah Jawa. Jalu ayam dipasang pisau, jaddi sekali kena, ayam lawan pun bisa langsung mati, ayam yang digunakan pun bukan ayam petarung/bangkok yang lazim dipakai oleh orang-orang yang memang mempunya gaya petarung pantang menyerah hingga mampu bertarung selama berjam-jam (agak lebay). Kalo sabung ayam disini durasi waktu cukup cepat, malah bisa cuma satu hantaman salah satu musuh langsung mati. Dan tentu saja ada perjudian disini.

Yogyakarta 1

Akhir 2009 bertepatan dengan acara ngunduh mantunya bapaknya Ole. Jogjakarta akhirnya dikunjungi juga, acaranya si di Solo, tapi kita nginep di Jogja saja. Rombongan dari Jakarta terbagi dalam dua gelombang, gelombang naik mobil dan gelombang naik kereta, ketemunya sama, di Jogjakarta. Kebetulan aku ikut gerombolan kereta, gak kuat kalo naik mobil jauh-jauh, mabok darat. Jumat malam naik Senja Jogja  dari stasiun Senen, berdua dan beda tujuan. Tiba di Stasiun Tugu sekitar pukul 05.00 WIB. Nunggu jemputan temen yang memang udah janjian. Sembari nunggu temen, sekalian nyari tiket balik ke Jakarta minggu malam. Kalo dari papan informasi si udah abis, tapi pas di depan loket, ada yang ngembaliin, langsung deh ditebus. Dulu gak ribet periksa-periksa identitas segala. Beda identitas pun tak apa-apa.

07.00 jemputan datang, naik motor yang bocor, apes, kudu nyari tukang tambal ban pagi-pagi. Setelah sampe kosan, mandi, sarapan. Siap-siap jalan, terlebih dahulu mampir ke temen-temen lain yang di Jogja, agak siang baru nyari batik, buat kondangan. Langsung ke kawasan Malioboro, Beringharjo ditelusuri, busyet ini pasar sumpek banget. Penuh sesak. Karena gak punya ilmu tawar menawar, gak jadi beli di pasar. Beralih ke Mirota, lumayan nyaman tempatnya (kalo gak penuh) barang yang tersedia juga cukup banyak. Setelah beberapa batik dipilih, beli satu lah, agak mahal juga harganya, mungkin bagi wisatawan biasa aja, terbukti toko ini selalu rame dikunjungi pembeli.

Ngomong-ngomong soal Mirota, tempatnya yang terletak di Malioboro memang sangat startegis, berada di ujung selatan berdekatan dengan Istana, tempat ini menyediakan berbagai macam batik, dari yang jutaan sampe yang 50ribuan. Aksesoris, kaos, makanan, jamu, maupun wewangian/dupa pun banyak. Tinggal pilih mana yang kamu suka, ambil, bayar. Di Lantai 3 bangunan ini terdapat cafe, dengan menu khas njawa, tapi menu umum lain pun ada. Terdapat juga semacam panggung kecil disini, mungkin pas malam ada band yang 
tampil.

Sore jam 4an kumpul di hotel siap-siap menuju tempat kondangan. Bermobil dari Jogja ke Solo emang lumayan jauh juga, sekitar 2 jam. Jalanan lumayan rame karena memang ini jalur utama yang menghubungkan Jogja - Solo. Dan kejadian horor sempet kami alami, senggolan dikit dengan bis Patas. Senggolannya dikit aja, jadi pas di cek cuma lecet dikit doang. Nyampe tempat resepsi sekitar jam 7 malam, langsung masuk, salam-salaman, poto-poto, pulang. Kelupaan makan makanan berat. Dan terbukti perjalanan pulang menjadi sedikit lebih menyakitkan, laper. Mampir dulu nyoba mi goreng yang pake anglo. Daripada malam tak bisa merem, mikir makan.

Minggu pagi masih kelaperan juga, keluar hotel berempat, pas banget di depan hotel ada nasi kucing. Ambil satu, abis, ambil lagi, gak kerasa kok udah empat bungkus. Emang bener laper apa emang ini nasi yang porsinya ngepas. Kalo empat belum seberapa, ada temen kok ya bisa sampe 6 bungkus. Edyan. Kelaperan beneran ini namanya. Agak siangan siap-siap check out siap balik ke Jakarta. Muter-muter Jogja dulu, nyobain gudek. Di sekitaran alkid kata orang ada gudeg yang enak. BUat ngisi bekal makan siang, lumayan juga bisa direkomendasikan ke temen kalo mampir ke Jogja. Di alkid ini juga, ada kegiatan semacam ritual berjalan dengan di tutup mata. Tujuannya melewati diantara 2 pohon beringin. Jarak dari 2 pohon ke tempat start kira-kira 50 meter. Dicoba, melenceng juga. Agak susah untuk tetap jalan lurus, dari 4 orang yang mencoba, cuma 1 yang berhasil, 3 gagal. Konon, yang berhasil rejekinya lancar. Puas mencoba, dan ambil beberapa gambar, saatnya pulang. aku berpisah dengan dianter dulu ke Malioboro. Ketemuan sebentar dengan temen, sebelum kereta berangkat jam 7 malam.

Sore sekitar jam 5 siap-siap ke stasiun, niatnya temen mau nganter, tapi aku nolak, pengen jalan dari Malioboro ujung selatan sampe stasiun tugu. Ternyata setelah nyampe tugu. Gemrobyos keringatnya, jauh juga. Mandi di stasiun, sambil nunggu kereta siap dan berangkat ke Jakarta.


Makassar Part 1

Masih ingat kapan anda naik pesawat untuk pertama kali Rasanya? Tegang? Senang? Kalo naik bis aja mabok, apa lagi naik pesawat. Hahahaha. Akhir 2009 berkesempatan mengunjungi kota yang katanya terbesar di bagian Indonesia timur, Makassar. Terletak di propinsi Sulawesi Selatan, yang juga merupakan kota pelabuhan yang cukup ramai. Kembali ke pesawat, karena ini pertama kalinya naik pesawat, agak grogi plus malu bertanya. Gimana ini naiknya, darimana, turun dimana, masuknya lewat mana? Cuma diberi kode naik damri dari gambir, turun bandara, ketemuan di Bandara. OK siap ndan. Untungnya di Bandara ketemu juga, berlima kita dari Jakarta, di terminal 1 siang sekitar jam 11 panas lumayan menyengat. Proses masuk ke pesawat terlewati dengan aman tak ada halangan, walopun cuma
mengekor, maklum belum tau prosedur. Dan, kejadian lucu menimpa kawan tim lain yang baru akan naik pesawat untuk pertama kali, dikira sama kaya di terminal bis kali, masuk langsung menuju gate penerbangan, tanpa melewati prosedur check in terlebih dahulu. Untung gak ikutan ndeso.

Kami naik Lion dari Jakarta, dan pas take off serasa kram ini perut, ngeri juga, sampai saat tanda sabuk keselamatan mati, baru agak tenang. Perjalanan Jakarta - Makassar ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat di  Makassar. Tiba di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sudah sore sekitar pukul 15.00 WITA. Bandara baru pindahan dari bandara militer yang letaknya tak terlalu berjauhan. Arsitektur bandara cukup unik, simple. Didominasi warna merah dan putih. kebersihan juga cukup terjaga. Untuk transportasi tersedia banyak taksi yang mangkal di Bandara ini, sayang kami tidak mencoba menggunakan jasa taksi, karena kami sudah di jemput. Kami langsung menuju tempat kerja, kemudian hotel, dan karena esok hari minggu selesai kami menuntaskan pekerjaan, kami harus langsung pulang ke Jakarta sorenya.

Untuk memaksimalkan waktu,kami langsung mengunjungi pantai paling terkenal se Makassar, Losari. Sore dan malam hari emang cocok untuk mengunjungi daerah ini. Tapi sebelumnya kami makan malam di tempat Warung Ikan Lae-lae. Letaknya masih di sekitaran Losari juga. Karena ini baru pertama kalinya kesini, menu pilihan kami serahkan pada ketua tim. Entah ikan apa yang dipesan dan dibakar. Mateng langsung kami nikmati, menurut lidah si, ini ikan mantap lah, sambelnya pun seger. Dan sudah seperti tabiat orang jalan-jalan, pasti terlalu kenyang kalo udah makan di luar. Selesai makan kami jalan ke Losari, malem sekitar pukul 21.00 WITA, masih ramai dan banyak yang jualan pisang epek bakar. Waloupun udah kenyang, berusaha juga untuk nyoba, barang seporsi dua porsi, lumayan lah dinikmati sambil ngobrol di pinggir pantai. CUman, yang agak menggangu di Losari banyak banget pengamen. Hilir mudik, bikin gak enjoy. Ada juga kafe yang menghadap pantai, tapi gak berani masuk, kantong masih cekak.

Sudah hampir pukul 23.00 dan besok harus menuntaskan kerjaan dan kembali ke Jakarta pada sore harinya, kami balik ke hotel, istirahat.

Pagi hari minggu, pagi-pagi sekali kami sudah check out, langsung ke lokasi kerjaan. Tuntas sekitar pukul 15.00 WITA, persiapan pulang. Masih sempet beli oleh-oleh, otak-otak khas makassar. Buat temen-temen di kantor. Tiba di Bandara pas, gak telat gak kecepetan juga. Siap balik Jakarta, oiya, kali ini ke Jakarta kami naik Garuda, terasa beda banget dengan pas naik Lion.

Jakarta Jakarta

Semenjak bisa mikir sampe SMA, gak pernah mikir bakal nyampe kota Jakarta. Kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Kota yang katanya menjadi gantungan mimpi para pendatang. Eh, kok ndilalah mungkin sudah dikodratkan, sampe juga ke Jakarta. Dulu waktu kecil pernah sekali ke Jakarta, tapi itu dulu, gak ada ingatan sama sekali. Dalam bayangan cuma dari sinetron-sinetron, berita-berita dan gambar-gambar.

Dalam rangka pendaftaran sebuah PT di Tangerang, lewatlah kami di Jakarta. Bertiga naik Purwojaya (karcis tanpa tempat duduk) bisa dibayangkan betapa sengsaranya (kami masih di antar oleh tetangga sampe jakarta, kata orang tua mbok nyasar). Berangkat dari Stasiun Besar Kroya sekitar pukul 20.00 WIB. Pas kebetulan musim libur sekolah, buanyak bener ini yang naik keretaaaaa. Mengambil duduk di bordess, 
sepanjang jalan bau oli, toilet, dan basah hujan. Nikmati saja selama masih ada. Sekitar pukul 04.30 WIB kereta tiba di Stasiun Gambir, dan dengan badan lusuh, celana kuyup karena bordess bocor, kami menunggu jemputan kakak sepupu. 

Lama nunggu, dan belum jaman megang handpone. Cuma nunggu sampe datang jemputan.Agak siang kakak sepupu tiba. Rute jalan kami yaitu Gambir - Jatinegara - Pasar Rebo - Lenteng Agung - Depok (kosan kakak ada di Depok). Dulu si belum mbayangin jauhnya, cuma pas dijalani kok yo jauh banget rasaneeee. Gambir - Jatinegara si OK lah, nebeng kereta kami yang tadi malam kami naiki, gratis. Jatinegara - Pasar Rebo naik 06A, ini nih jalur mautnya. Jauh dan macet. Siaul, baru dateng langsung dihidangkan macet tiada tara. Segala macam bau-bauan kayaknya ada nih di jalur ini, mulai comberan, ikan busuk, ketek orang. Mabokkkkk. Pusinggg. Pasar Rebo - Lenteng Agung - Depok tinggal meneruskan maboknya aja, seraya bertanya, kapan sampainya?!

Pukul 10.00 yampe juga di kosan, lemah, letih dan lesu. Kami ditinggal bedua di kamar kosan sementara kakak sepupu pergi kuliah, sampe sore menjelang malam. Selama ditinggal di kamar kerjaan cuma di kamar aja. Maklum, anak pemalu, gak berani keluar kamar lama-lama. Kalo kata penghuni kos yang lain ini anak berdua yang satu kerjaannya tidur terus, yang satu berdoa terus :D.  Ah, mana gue pikirin.

1 hari kemudian seperti rencana, ke Tangerang dan malamnya langsung pulang. Naik kereta, kali ini dapat tempat duduk. Lumayan bisa duduk.

Beberapa minggu kemudian dapet pengumuman, kuliah di Tangerang, dan awal mula meneruskan mengenal Jakarta pun dimulai. Bisa di katakan Jakarta itu menyebalkan, tapi kadang ngangenin juga.