Thursday, 17 April 2014

Dan pikiran-pikiranmu yang membuatmu terbatas, seakan kamu lupa Tuhanmu.

Monday, 7 April 2014

JKT - CLP - CGK - SUB

Liburan Nyepi tahun ini gak kerasa sepinya, tetep rame. Terutama kabar ke Surabaya yang mendesak bagai penumpang KRL Bogor -Jakarta Kota di jam berangkat kerja. Ini orang-orang kok gak bilang-bilang dulu kalo berubah rencana. Kan jadi serba buru-buru, mana rencana pulang ka kampung halaman udah jauh-jauh hari direncanakan. Jadi berasa kayak artis panggilan show di berbagai kota. 

Kebayang nanti sehabis turun dari kereta senin dini hari harus mulai siap-siap, nyetrika. Paling males emang ini kerjaan. Terlebih lagi ini kerjaan "remeh temeh' tapi bawa orang segudang, kalo gue jadi Bos udah gue suruh berangkat sendirian aja itu orang. Masih ketakutan gara-gara tragedi MH370, perjalanan CGK - SUB berjalan lancar. Update terbaru, pesawat tersebut diperkirakan jatuh/menjatuhkan diri di pesisir selatan Samudra Hindia. Pencarian masih dilakukan oleh beberapa negara terutama yang aktif yaitu China dan Australia. Indonesia? ya bantu-bantu juga, tapi harus diakui teknologi kita kalah jauh dibanding dengan negara-negara yang ikut dalam pencarian MH370.

Sampai Surabaya sudah barang tentu hawa panas menyengat meskipun tak sampai membakar kulit, tapi kerasa gerah sepanjang hari. Kali ini penginapan kami di sekitar Jalan Raya Darmo, hampir mirip dengan kawasan Sudirman-Thamrin di Jakarta sono. Bedanya sepanjang jalan ini terasa lebih teduh karena banyak pepohonan di kanan kiri jalan. Kemacetan yang katanya tiap pagi dan sore menerjang pun tak terasa jika dibandingkan dengan macetnya Jakarta. Mungkin agak sedikit lebay nih orang Surabaya dengan kemacetan yang dihadapi di jalanan Surabaya.

Di Jalan Darmo ini pula berada Taman Bungkul yang mulai ditata ulang oleh Ibu Walikota sehingga menjadi taman yang menarik. Terbukti, taman ini menyabet gelar taman terbaik versi **** (cari sendiri ya). Sebenernya si ini taman biasa aja, cuman akses untuk menuju kesini itu seperti kawasan Menteng tapi gak macet. Hampir mirip Taman Suropati. Namun, tiap malam ramenya ngalahin pertandingan catur RT-an. Tua muda, laki perempuan ada, kebanyakan si muda-mudi yang eksis di Taman Bungkul. Kalo di berita sepertinya penataan kota Surabaya oleh Ibu Walikota itu dianggap berhasil, tapi kalo dilihat si biasa saja, apa karena sebelumnya  gak pernah perhatian, jadi merasa perbedaannya. Yang paling enak dilihat memang sepanjang Jalan Darmo, kalo 20% saja jalan di ibu kota Jakarta seperti Jalan Darmo, pasti betah lah hidup di Jakarta.

Bicara tempat makan ada beberapa nih yang direkomendasikan: 
  1. Masih di sekitar Taman Bungkul, tepatnya dibelakang atau di seberang depan Hotel Grand Darmo, ada Rawon Kalkulator, lumayan mantap, gurih, sedep. 
  2. Padin 24 jam, menu gak jauh-jauh dari ikan dan ayam boreng serta bakar, yang unik cuma terong goreng/bakar. Mungkin karena ini warung 24 jam jadi lumayan ramai, tapi ada yang berangkapan harganya kemahalan, sambelnya maknyus. Kalo aku pribadi ini biasa saja.
  3. Agak di luar kota, Gresik tepatnya (1 jam dari kota Surabaya) Bandeng Pak Elan. Inilah yang paling mantep, Bandeng bakar tanpa duri nya di jamin nampol, walopun sambel kecapnya biasa saja. Tapi, emang daging bandengnya top markotop.

Sunday, 6 April 2014

Pontianak - November Kelabu

Siapa bilang cuma Desember yang kelabu? November pun bisa kelabu, malah sedikit menghitam (kayaknya cuma saudarinya si Krisdayanti a.k.a. teteh Yuni Shara yang bilang). Pernah kan ngerasain orang yang lagi kamu deketin tiba-tiba menjauh, terus dapat kabar kok sudah dilamar laki-laki lain? Gak semua kan ya. Sial! Jantung berasa dag dig dug serrr, lemes, lunglai. Ya, pengantar cerita menjelang ke Pontianak, 2 minggu yang bakalan bikin bosen setengah mampus. Mbok ya jangan ke Pontianak, ke Bali lah juga boleh tuh, apa ke Malang, ngadem.

Pesawat ke Pontianak pagi sekitar jam 8, alamat jam 5 harus udah dapet taxi. Untungnya kok ya gampang aja dapet taxi sambil gendong-gendong troli. Sampai Bandara aman jaya. Oiya, ini penerbangan agak serem, sehari apa dua hari sebelumnya Saudara kita di Tacloban, Filipina baru saja diterjang Topan Haiyan yang konon terbesar sepanjang dekade terakir. Efek dari topan tersebut terasa sampai wilayah udara Indonesia bagian utara. Makin lengkap ini kabar cuaca udah mendukung banget kelabunya hati (yang barusan itu lebay). Terbukti pesawat geol kanan geol kiri menghidari awan. Sejam berlalu, mendaratlah kami di Bandara Supadio, Pontianak. Alhamdulillah. Ambil bagasi kelar, langsung cari taxi menuju tempat penginapan di kawasan kota lama Pontianak, Jalan Gajah Mada.

Dua minggu berkeliling Pontianak cukup tahu sedikit seluk beluk kota ini. Dari mulai gak ada angkot, taxi jarang, ojek gak ada, tapi kok walikotanya mau bikin jalus sepeda sepanjang jalan Ahmad Yani. Apa gak mikir itu walikota, angkot aja gak hidup, kok malah bikin jalur sepeda, buat apa? Toh, masyarakatmu cuma sabtu/minggu pagi aja mau bersepeda, hari lain mana mungkin sempet. Instruksikan lah ke Dinas Perhubungan untuk mengatur trayek angkutan, insntif kepada pengusaha angkutan kota agar mereka mau merintis usaha dan dapat hidup berjalan. Paling tidak kalo mau mencontoh kota Jakarta, Yogyakarta dan Palembang sudah ada semacam bus ibukota yang cukup layak. Walopun kadang-kadang juga mengecewakan.

Barikutnya, tongkrongan kopi. Entah itu kafe atau sekedar warung kopi, kedai kopi atau apalah namanya (sebut saja warkop), hampir dipastikan setiap sore dan malam selalu ramai. Mulai dari yang tua bangkotan, samapai anak muda seusia anak kuliahan aktif nongkrong di warkop2 ini. Di depan penginapan kami tepat Warkop Winny, hampir tiap sore sampai menjelang dini hari, ramai. Ini tempat juga hampir selalu jadi tempat wajib kalo mau nongkrong, selain kopi mantap, mau duduk dari dari maghrib sampe tengah malam pun tak akan diusir. Teman ngopi selain ngobrol tentu temen yang ngobrol itu. Oiya, kami bertiga dari Jakarta. Selain
itu temen ngopi bisa nasi goreng, mi rebus dan pisang goreng pake selai srikaya (yang terakhir disebut yang bener).  Bahkan kalo malem minggu, hampir separuh jalan dipenuhi parkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Alamat yang parkir terlalu dalam siap-siap pulang dini hari. Sempet juga mencicipi warkop yang agak mewah, semacam kafe, sama saja kopi mantap, cuma harga emang beda dikit.

Selanjutnya, komposisi masyarakat bisa dikatakan 30% dayak, 30% tiongkok, 30% melayu, sisanya ampuran kebanyakan jawa. Bisa dipastikan kalian kalian yang suka makan nasi padang akan kelimpungan nyari makan di Pontianak. 2 eminggu makan, kami gilir aja tuh 5 tempat yang sama, bahkan ada yang 3 kali, saking gak banyak pilihan makan. Banyak etnis tiongkok yang berdagang, panganan-panganan khas entah itu bakpao, kwetiauw dan lain-lain yang kebanyakan mengandung babi. Makin dikit aja kan pilihan makan. Tapi tenang aja, kalo punya temen gak bakal kelaperan. Beberapa kali ditunjukan tempat makan diantaranya Warung Masakan Melayu dan Warung Seafood (kebanyakan seafood di sini mahal). Nah, pas makan di warung Makan Melayu ini nemuin  menu yang maknyus tenan. Gule daging, sayurnya semur buah nanas. Gurih-gurih asem manis. Kalo seafood ya standak lah, di Jakarta juga banyak, cuma ada steam ikan salju, itupun gak terlalu suka.

Next, sungai kapuas ternyata baum bau khas, aneh, baru kali ini ada sungai baunya kayak itu. Gak bisa dideskripsikan secara jelas maupun dianalogikan dengan bau duren misalnya. Gak terlalu mengganggu, karna gak tiap hari keluar baunya. Warna sungai gak pernah bening, selalu kuning kecoklatan. Mungkin di hulu sungai sana banyak yang main lumpur, atau hujan terus tiap hari.

Cukup dua minggu di Pontianak, cukup bosen, tapi cukup mencerahkan November kelabu. Sejenak lupa. Lupa sakit.

Monday, 24 March 2014

Jokowi - Ahok : Jakarta Baru (Baru Setahunan Udah Mau Kabur)

Ini murni pendapat pribadi yang tak pernah ikut dalam pemilihan umum kecuali untuk pertama kalinya mempunyai hak pilih.

Jokowi resmi dideklarasikan sebagai Capres dari PDIP, menesampingkan ambisi Megawati yang memang diprediksikan sedang galau antara maju atau diam. Maju, publik sudah tak empati lagi, diam berarti mati. Akhirnya menjelang dimulainya musim kampanye parpol pada pemilu 2014, Jokowi resmi dideklarasikan, dengan istilah mandat dari Ketum.

Jokowi kita tahu saat ini masih menduduki jabatan sebagai Gubernur DKI yang dimenangkan melalui pemilu 2 putaran mengalahkan sang incumbent, Foke. Berpasangan dengan Ahok, Jokowi kala itu sukses mengambil simpati sebagian warga DKI. Janji-janji politik, pencitraan oleh media dan track record sebagai walikota Surakarta turut melambungkan nama Jokowi. Tanpa mengesampingkan prestasi Ahok.Setahun lebih setelah resmi menjabat Gubernur DKI, Jokowi akhirnya seperti menelan ludah sendiri. Beberapa waktu lalu media sering bertanya kepada Jokowi apakah akan maju sebagai Capres, dengan lantang dijawab "gak mikir 3x"' "fokus DKI dulu". Ah, tai kucing, pikir sebagian orang waktu itu, pasti Capres juga. Dan benar-benar terjadi.

Tak bisa dipungkiri, sejak Jokowi menjabat sebagai Gubernur cukup banyak usaha dan perubahan yang dilakukan. Bisa dilihat dari mulai urusan birokrasi, pasar, pemukiman kumuh, waduk, transjakarta, sekolahan, kesehatan tak luput dari tangan dingin Jokowi. Namun semua itu masih belum semuanya terselesaikan, ibarat kita main sepak bola, baru main 5 menit, masih menjajaki kekuatan dan kelemahan lawan. Belum ada hasil konkrit yang bisa dirasakan oleh penduduk DKI. Macet di DKI masih saja menjadi makanan sehari-hari, banjir masih melanda, transportasi masal belum bisa digalakkan, bus trans jakarta masih karatan (ngisin-ngisini). Ok lah disini saya menghargai usaha Jokowi, namun mbok yao mandan mikir sitik, hasilnya belum ada apa-apanya.

Kalo boleh dibilang juga Jokowi ingkar janji terhadap warga DKI, terutama pemilihnya. Dalam sumpah jabatan pun jelas masa kontrak Jokowi-Ahok bersama warga DKI, 5 tahun. Walaupun Jokowi belum tentu terpilih sebagai Presiden, namun hal ini sudah merupakan indikasi kuat. PDIP membela dengan mengatakan bahwa berdasarkan survei, 69% warga DKI setuju Jokowi maju sebagai Capres, artinya hampir sebagian besar warga DKI merestui Gubernur mereka untuk menjadi RI 1. Tapi itu cuma survei, dan yang mengatakan pun pihak PDIP. Sudah menjadi rahasia umum, survei bisa dibayar, mana ada survei gratis. Mau hidup dari mana lembaga survei itu? 

Dalam pandangan pihak PDIP, dengan Jokowi menjadi Presiden, maka tidak hanya warga DKI saja yang merasakan kinerja dari Jokowi, bahkan seluruh rakyat Indonesia bisa merasakannya. Halooo...... Seakan-akan Jokowi ini dewa, lebih superior dari pemimpin daerah lainnya. Ingat, hierarkis kepemimpinan. Gubernur/Bupati/Walikota jangan diabaikan, jangan menganggap mereka inferior dan ditutupi oleh sosok Presiden. Sangat sombong jika PDIP beralasan demikian.Strategi pencapresan Jokowi juga bisa saja dimanfaatkan oleh elit PDIP untuk mendongkrak perolehan suara PDIP. 

Tentunya PDIP tak ingin 15 tahun menjadi oposan di parlemen. Jokowi saat ini sudah mulai menjadi Jurkam PDIP di daerah-daerah. Strategi Jitu. Terbukti ketika Megawati mengunjungi Yogyakarta, yang ditanyakan masyarakat Yogja " Mana Pak Jokowi?". Patut dikaji juga apa strategi Megawati dibalik Pencapresan Jokowi. Apakah memang Megawati telah menjadi negarawan dan Politikus sejati dengan mengajukan Jokowi sebagai Capres dari PDIP atau ada motif-motif lain dibaliknya? Mana kita tahu.

Tapi apa lacur, Jokowi sudah menerima mandat sebagai Capres dengan segala konsekuensinya. Semoga warga DKI lebih legowo dengan majunya Gubernur mereka, dan juga Semoga Jokowi tak menjadi Prseiden kita. Masih terlalu prematur. Tak ada yang istimewa selain pencitraan tiada henti yang dilakukan di media. Kalo boleh usul, mbok ya tunggu nanti saja setelah masa jabatan habis, toh kalo berhasil membangun DKI, rakyat Indonesia tidak buta. Dan Jokowi memiliki nilai lebih dengan berhasilnya membangun DKI. Atau Jokowi sudah angkat tangan alias menyerah dalam membenahi DKI, sehingga beralih ke kursi RI 1, dari pada cuma menduduki DKI 1 yang toh pada nantinya tak akan ada hasilnya yang lebih, mending sikat posisi yang lebih tinggi.

Semoga masih ada pilihan pemimpin selain Jokowi.

Aceh - 2013











Aceh, mungkin baru terkenal di dunia semenjak tragedi gempa dan tsunami yang melanda 'negeri serambi mekah' akhir 2004. Segala mata dan perhatian tertuju di kawasan ini dan juga di asia tenggara dan asia selatan. Thailand, Maldives dan beberapa negara terkena dampak tusnami tersebut. Bencana tersebut seakan menghapus sejarah konflik tiada henti antara GAM dan Pemerintah RI. Tak terdengar lagi berita mengenai konflik tersebut.9 tahun berlalu, pertengahan 2013 mungkin sudah tak ada lagi sisa betapa hancurnya Aceh pada masa itu. Bantuan dari seluruh dunia mengalir, bahkan Pemerintah RI membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias guna mempercepat penanganan pasca bencana.

Setiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, kami langsung menuju tempat penginapan, lumayan jauh dari bandara, sekitar 45 menit menyusuri jalan yang kalo boleh dikatakan mulus untuk ukuran propinsi di ujung Indonesia. Sepanjang jalan tak terlalu banyak lalu lalang kendaraan, masih relatif sepi jika dibanding dengan ibu kota propinsi lain di Indonesia. Taxi disini hanya tersedia di bandara, kalo di jalanan Aceh cukup sulit untuk mencari, kebanyakan adanya bentor untuk transportasi umum di dalam kota Aceh.


Jumat malam, pertama kami Masjid Baiturrahman, terletak di pusat kota, dekat Pasar Aceh. Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M, kelihatan masih berdiri kokoh. Kebetulan pas malam itu sudah tidak ada kegiatan di masjid, praktis hanya beberapa orang yang sengaja mengunjungi masjid sekedar untuk melihat-lihat. Pelataran masjid cukup luas dengan kolam di area taman. Pas malam tesebut masjid sedang dibersihkan, sekitar sepuluhan orang sedang mengepel pelataran masjid. Yang membuat agak kurang nyaman disini mungkin adanya beberapa pengemis yang sengaja meminta-minta. Di jalan sekitar masjid terdapat warung tenda yang mulai menjajakan dagangan mulai selepas ashar. Namun tidak banyak yang khas disini, hanya beberapa warung kopi, mi dan nasi goreng dan sate padang.



Hari sabtu pagi kami sudah merencanakan untuk menyebrang ke Pulau Weh. Dari tempat penginapan berangkat jam 8.30 menuju ke pelabuhan Ulee Lheu. Tiket penyeberangan sebesar Rp60,000,- menggunakan kapal cepat KM Pulo Rondo. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Dan yang bikin ngeri disini, cuaca kadang tak menentu yang mengakibatkan paling ringan si perjalanan kapal menjadi bergejolak, bagi yang gak tahan mabok laut, bisa langsung pening pas turun dari kapal, paling apes ya kapal gak bisa melaut, karena ombak tinggi. Untung pas sabtu pagi ombak lumayan bersahabat.Sampai di KPBS (Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang) kami dijemput kawan kami yang akan jadi guide. Penduduk lokal yang mempunyai darah jawa - batak. Tujuan pertama Kami tentu saja KM 0. Di ujung Pulau Weh. Cuaca lumayan cerah sedikit panas waktu itu, jadi AC mobil seakan gak kerasa.

Perjalanan dari pelabuhan menuju KM 0 bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Jalan berkelak kelok khas pengunungan, namun ini bukan gunung, hanya pinggir pulau yang berbukit-bukit. Jalan kecil sehingga untuk berpapasan dengan mobil lain harus memperlambat laju. Sabang dulu terkenal dengan hasil kelapa, sepanjang jalan banyak terlihat pepohonan kelapa yang menjulang rapi, sengaja di tanam oleh masyarakat Sabang. Menjelang KM 0 suasana sedikit lebih sejuk, karena pepohonan cukup lebat. Satu jam lebih, akhirnya kami sampai di KM 0. Horaiiii. Akhirnya menjejakan kaki juga di Ujung barat Indonesia (tinggal ujung timur, selatan, utara). Cukup ramai juga sabtu siang, gak ada yang istimewa, tapi mungkin karena ini simbol/tugu cukup terkenal jadi banyak orang yang ingin kesini, sekdar poto-poto.

Sekitar 1 jam di kawasan KM 0, puas menikmati pemandangan, puas minum air kelapa, kami pulang menuju Sabang. Kata pemandu kami, Sabang juga terkenal akan spot diving maupun snorkeling. Banyak wisatawan mancanegara yang ke Pula Weh hanya untuk menikmati keindahan bawah laut di Sini. Salah satunya kami ditunjukan salah satu pantai di Pulau Weh, Pantai Iboih. Iboih merupakan daerah favorit untuk berekreasi dan melepaskan penat. Perairan di sekeliling pulau Weh merupakan perairan laut lepas yang diapit oleh Selat Malaka dan Samudra Hindia. Di sekitar pantai Iboih juga terdapat resort-resort dan restoran untuk para wisatawan yang bermalam. Meski tak sempat mencoba untuk sekedar snorkeling, hanya jalan di pantainya saja, namun tak bisa dipungkiri bahwa Iboih itu indah. Bayangkan cuma berenang dibibir pantainya saja karangnya indah banget, ikan warna warni pun banyak berkeliaran. Sayang banget kemaren gak siap-siap buat snorkeling.

Selepas menikmati Pantai Iboih, kami menuju ke Kota Sabang. Gak cukup ramai untuk ukuran ibu kota administratif. Dulu kata orang sini, pelabuhan Sabang ramai bersandar kapal-kapal niaga yang besar, namun sekarang sudah sepi. Tak ada lagi efek dari kebijakan kawasan bebas Sabang. Kalah dengan Batam yang sekarang maju sebagai kota Industri. Setelah makan siang di warung makan (kebanyakan toko di Sabang tutup pada siang hari antara jam 12 s.d. jam 1), kami pulang dengan menumpang KM Pulo Rondo juga. Kali ini di laut cuaca agak bergejolak, terbukti turun dari kapal cepat setiba di Pelabuhan Ulee Lheu langsung pening. Sembari pulang menjuju tempat penginapan kami sempat mengunjungi Kapal PLTD Apung, yang tersapu gelombang Tsunami sampai sejauh hampir 2,5 KM jauhnya dari bibir pantai. Bisa dibayangkan betapa besar gelombang tsunami yang menerjang Aceh, kapal berbobot sekitar 2600 ton bisa terbawa gelombang tsunami. Sayang kami tidak bisa mauk ke dalam, karena jam operasional sudah tutup.

Sedikit saran buat kawan-kawan yang ingin berkunjung ke Sabang, sempatkanlah menginap untuk menikmati Pulau Weh.

Minggu esok pagi, kami sudah janji untuk jalan menyusuri kota Banda Aceh. Ibu Kota Nangroe Aceh Darussalam. Karena ada beberapa alasan, tinggal berdua saja yang keliling Banda Aceh naik bentor. Tujuan utama kami, dan ini satu-satunya yang diketahui, Museum Tsunami. Museum Tsunami Aceh diresmikan mulai senin 10/05/2011 oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf. Bentuknya menyerupai epicenter gelombang laut, terdiri dari 4 tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa islam plus beberapa rajutan saling silang yang mirip tari saman. Museum ini dibangun di atas areal tanah seluas 10.000 meter persegi. Di dalam museum ini banyak terdapat memorabilia terkait dengan tsunami, miniatur tsunami dan juga ada bioskop kecil yang memutar film dokumenter pada saat tsunami menerjang. Banyak banget hal-hal unik terkait tsunami di museum ini, kalo dicritain semua bisa bosen yang baca, datang dan nikmati aja ya...

Di sekitar Museum Tsunami juga terdapat Lapangan Blang Padang. Nah disini ada kapal udara Seulawah. Walapun sekarang hanya berupa sebuah monumen, pesawat Dakota DC-3 RI-001 dengan nama Seulawah yang memang sangat bersejarah. Konon, pesawat yang dibeli oleh rakyat Aceh dan diberikan kepada negara itu merupakan cikal-bakal maskapai penerbangan Indonesian Airways atau yang sekarang dikenal sebagai Garuda Indonesia. Namun, banyak pihak juga yang menolak teori ini dan mengatakan bahwa Garuda Indonesia tidak pernah sama sekali mengoperasikan pesawat Dakota DC-3 RI-001. Tapi yang pasti, Dakota DC-3 RI-001 merupakan sebuah kontribusi rakyat Aceh kepada bangsa Indonesia. Pesawat yang dibeli pada tahun 1948 dibayar menggunakan dana sumbangan berupa 20 kg emas yang dihimpun dari rakyat Aceh. Pesawat dibeli dari seorang penerbangan Amerika Mr. JH Maupin di Hong Kong. Di sekeliling lapangan Blang Padang terdapat tugu nama-nama negara yang telah membantu rakyat Aceh dalam menghadapi masa pasca bencana tsunami dengan ucapan "Terima Kasih dan Damai" dalam bahasa negara tersebut masing-masing.

Di pertengahan minggu setelah kami ke Sabang, pas banget dengan awal bulan puasa. Dan di Aceh ada tradisi unik yaitu Meugang. Tradisi ini di laksanakan 3 kali setahun menjelang puasa ramadhan, menjelang idul fitri dan menjelang idul adha. 2 hari sebelum puasa ramadhan, masyarakat aceh berbondong-bondong ke pasar untuk membeli daging, dimasak, dan dimakan di rumah ramai-ramai bersama keluarga. Cukup unik karena di sepanjang jalan sekitar pasar ada banyak pedagang daging sapi yang berjualan, hampir 2 hari kami melawati jalan yang sama dan setiap pagi selalu ramai pembeli daging. Kami gak sempat mencicipi olahan dagingnya, gak ada yang ngasih.

Mengenai kuliner di Aceh gak terlalu banyak, paling terkenal antara lain ayam tangkap, mi aceh, peuleut (semacam ketan manis dibungkus daun pisang dan dibakar). Tapi yang paling berkesan disini memang kopi. Hampir setiap warga aceh tiada hari tanpa ngopi. Dan kami jadi ketularan seneng ngopi-ngopi di kedai tiap sore. Pulang kantor sekitar jam 5 di Aceh matahari masih terang benderang, masih ada waktu sampai jam 7 malam baru maghrib. Jadi asyik ngopi-ngopi di kedai sambil nunggu maghrib. Kebetulan tempat penginapan kami dekat dengan kedai kopi yang cukup terkenal, Solong dan satu lagi lupa nama kedainya. Hampir tiap sore kami kunjungi. Waktu ramai minum kopi setelah salat Isya/tarawih, pasti kursi kedai kopi penuh, bahkan yang tadinya gak rame, jadi rame. Oiya, ada yang unik disini, martabak telor. Kalo di Jakarta kita kenal martabak telor adonan telornya yang dibungkus kulit martabak, beda dengan di aceh, kulit martabak dipanggang sebentar kemudian adonan telor dilumurkan kedalam kulit martabak yang telah dipanggang tadi.

2 Minggu di Aceh kayaknya masih kurang, padahal sudah merasakan gempa, sampai-sampai SBY sempat datang ke Aceh Tengah (pusat gempa).

Oiya, oleh-oleh juga jangan sampe lupa, Kopi, Dendeng dan lain-lain.

Friday, 21 March 2014

Tilang Gak Tilang

Share pengalaman buat teman-teman yang mungkin sedang apes, pas di jalan raya sedang asyik-asyiknya di malam hari mengendarai sepeda motor sambil melanggar rambu-rambu lalu lintas, eh tiba-tiba ada Polisi lalu lintas yang menghadang laju sepeda motor teman-teman dan langsung main cabut kunci kontak motor.

Kejadian ini pas Jumat malam, sehabis makan-makan di Kaleyo Rawamangun bersama teman kantor, jam 10 malem kami balik ke rumah masing-masing. Kebetulan kami berdua dengan dua motor beriringan pulang ke aras Senen. Semua lancar-lancar saja sampe pas kami sama-sama melanggar rambu lalu lintas, masuk jalur cepat untuk putar balik pada tempat yang tidak semestinya. Agak aneh di depan kok ada kelap-kalip tongkat yang ada lampunya. Ahhhhh, apes dah ini ada razia. Karena yang merazia di jalan kebetulan cuma berdua, dan temen aku yang tadi sama-sama bisa mengelak, aku pilih berhenti (sedikit penasaran mau ditilang berapa). Sesuai prosedur si perazia menyetop, mengambil kunci otor, minta surat-surat kendaraan, SIM. Setelah di periksa si perazia menyebutkan semua kesalahan yang telah aku lakukan, mulai dari melanggar rambu jalur cepat, STNK mati dan TNKB mati. Tersebutlah angka nomimal tilang 470ribu dengan konsekuensi motor ditahan. Busyet, ini angka dari mana, tanyaku, kemudian si perazia membuka buku dan menunjukan jenis pelanggaran dan nominal denda maksimalnya.

Si perazia terus menerus menekan supaya tilang, sidang tanggal 28 Maret atau kapan aku bisa sidang. Di sinilah kebohongan-kebohongan itu terjadi. Mulai dari tidak tahu ada rambu larangan, rumah di depok, tak punya waktu buat sidang, tak punya uang, susah kerja kalo motor ditahan, dan segala macam lagi (semoga diampuni). Si perazia terus juga menekan sambil terus ngomel sana sini menyalahkan. Dan dijawab juga dengan kebohongan-kebohongan sambil sedikit pasang muka memelas.

Sekitar 10 menit si perazia gak sukses menekan, dan dengan kebohongan yang tadi ternyata si perazia mulai frustasi juga, mulai menawarkan titip sidang lah, nanya mauku gimana lah. Tapi tetep bersikeras gak mau ditilang, kalo mau tilang yang jangan bawa motornya. Lama ngobrol dengan rekannya, akhirnya tiba-tiba hati bapak si perazia luluh juga, di kembalikan semua kunci, STNK dan SIM. Gagal ditilang. Dalam hati aku bingung juga, ini gimana si? kok bisa? Mungkin jawabnya pada pada si perazia aja yang tahu. Yang penting bebas. Hahahahahaha....

Langsung ngacirrrrrr...

Sampe rumah gak langsung sujud syukur, tapi masih mikir, kenapa si perazia cuma bertiga? Kenapa gak jadi tilang? Kenapa yang satu (sepertinya komandannya) malah asyik ngobrol dengan dua perempuan di sebrang jalur lambat?

Tuesday, 18 March 2014

Inter Milan dan Argentina - love at first sight


Agak lucu aneh juga menganalogikannya, tapi yasudah gak usah terlalu dipikir panjang. Entah kenapa ketika awal-awal doyan nonton dan main sepakbola, langsung ngefans sama dua tim ini. Argentina dan Inter Milan. Argentina karena pas beranjak mengenal bola pas Piala Dunia Prancis 98. Disitu ada Gabriel Batistuta dkk tidak berdaya cuma menanjak sampai perempat final, dihadang Belanda apa Inggris ya (tapi wikipedia bilang Belanda). Gak apa-apa cuma sampai perempat final. Fans Sejati. Dan Setiap Gelaran Piala Dunia/Olimpiade/Copa America dan lain-lain selalu dukung Timnas Argentina. Gak ada yang istimewa, cuma terlanjur dan keterusan ngefans.


Kalo Inter Milan agak beda sedikit, kasihan ngeliat tim ini gagal juara terus (berdasarkan sejarah). Jadilah Fans. Mulai sekitar tahun 2000 ketika nama-nama seperti Ronaldo dan Zamorano masih menghuni skuad Inter mulai mengikuti perkembangan tim. Bongkar pasang skuad tak jua membuahkan piala. Hampir juara tapi kalah oleh Lazio di pertandingan terakhir jadi dikudeta oleh Juventus, ah sial. Semifinal liga champions eropa yang kontroversial melawan AC MIlan menambah derita klub ini. Atau memang kutukan juga belum terbukti. Sampai pada akhirnya skandal calciopoli merubah peta kekuatan tim-tim di Italia, Juventus, Lazio, dan beberapa klub gurem terkena efeknya. Muncul Inter sebagai kekuatan baru yang kadang kalo nonton Inter kok ya bosen jarang kalah. Scudetto pun diraih juga. Nama-nama seperti Zlatan, Vieira, Materazzi dan kawan-kawan. Puncaknya Piala Champions Eropa pun direngkuh setelah di final menjunggkalkan Bayern Munich. Jelas sosok Mourinho tak bisa dikesampingkan dari sukses besar Inter, terbukti setelah ditinggal Mourinho yang memilih hengkang ke Real Madrid, prestasi Inter melempem.

Tahun 2014 Inter masih dalam tahap pengembangan tim, kita tunggu saja apakah akan mendapat hasil yang maksimal di liga domestik dibawah asuhan Mazzari. Untuk Argentina, patut kita saksikan apakah Messi dkk bisa berbicara banyak di Piala Dunia Brazil Juni nanti.

Bukan berarti saya tak mendukung Timnas Indonesia, cuman, ah sudah lah...

Forza Inter.

Salam Olahraga.