Siapa bilang cuma Desember yang kelabu? November pun bisa kelabu, malah sedikit menghitam (kayaknya cuma saudarinya si Krisdayanti a.k.a. teteh Yuni Shara yang bilang). Pernah kan ngerasain orang yang lagi kamu deketin tiba-tiba menjauh, terus dapat kabar kok sudah dilamar laki-laki lain? Gak semua kan ya. Sial! Jantung berasa dag dig dug serrr, lemes, lunglai. Ya, pengantar cerita menjelang ke Pontianak, 2 minggu yang bakalan bikin bosen setengah mampus. Mbok ya jangan ke Pontianak, ke Bali lah juga boleh tuh, apa ke Malang, ngadem.
Pesawat ke Pontianak pagi sekitar jam 8, alamat jam 5 harus udah dapet taxi. Untungnya kok ya gampang aja dapet taxi sambil gendong-gendong troli. Sampai Bandara aman jaya. Oiya, ini penerbangan agak serem, sehari apa dua hari sebelumnya Saudara kita di Tacloban, Filipina baru saja diterjang Topan Haiyan yang konon terbesar sepanjang dekade terakir. Efek dari topan tersebut terasa sampai wilayah udara Indonesia bagian utara. Makin lengkap ini kabar cuaca udah mendukung banget kelabunya hati (yang barusan itu lebay). Terbukti pesawat geol kanan geol kiri menghidari awan. Sejam berlalu, mendaratlah kami di Bandara Supadio, Pontianak. Alhamdulillah. Ambil bagasi kelar, langsung cari taxi menuju tempat penginapan di kawasan kota lama Pontianak, Jalan Gajah Mada.
Dua minggu berkeliling Pontianak cukup tahu sedikit seluk beluk kota ini. Dari mulai gak ada angkot, taxi jarang, ojek gak ada, tapi kok walikotanya mau bikin jalus sepeda sepanjang jalan Ahmad Yani. Apa gak mikir itu walikota, angkot aja gak hidup, kok malah bikin jalur sepeda, buat apa? Toh, masyarakatmu cuma sabtu/minggu pagi aja mau bersepeda, hari lain mana mungkin sempet. Instruksikan lah ke Dinas Perhubungan untuk mengatur trayek angkutan, insntif kepada pengusaha angkutan kota agar mereka mau merintis usaha dan dapat hidup berjalan. Paling tidak kalo mau mencontoh kota Jakarta, Yogyakarta dan Palembang sudah ada semacam bus ibukota yang cukup layak. Walopun kadang-kadang juga mengecewakan.
Barikutnya, tongkrongan kopi. Entah itu kafe atau sekedar warung kopi, kedai kopi atau apalah namanya (sebut saja warkop), hampir dipastikan setiap sore dan malam selalu ramai. Mulai dari yang tua bangkotan, samapai anak muda seusia anak kuliahan aktif nongkrong di warkop2 ini. Di depan penginapan kami tepat Warkop Winny, hampir tiap sore sampai menjelang dini hari, ramai. Ini tempat juga hampir selalu jadi tempat wajib kalo mau nongkrong, selain kopi mantap, mau duduk dari dari maghrib sampe tengah malam pun tak akan diusir. Teman ngopi selain ngobrol tentu temen yang ngobrol itu. Oiya, kami bertiga dari Jakarta. Selain
itu temen ngopi bisa nasi goreng, mi rebus dan pisang goreng pake selai srikaya (yang terakhir disebut yang bener). Bahkan kalo malem minggu, hampir separuh jalan dipenuhi parkir kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Alamat yang parkir terlalu dalam siap-siap pulang dini hari. Sempet juga mencicipi warkop yang agak mewah, semacam kafe, sama saja kopi mantap, cuma harga emang beda dikit.
Selanjutnya, komposisi masyarakat bisa dikatakan 30% dayak, 30% tiongkok, 30% melayu, sisanya ampuran kebanyakan jawa. Bisa dipastikan kalian kalian yang suka makan nasi padang akan kelimpungan nyari makan di Pontianak. 2 eminggu makan, kami gilir aja tuh 5 tempat yang sama, bahkan ada yang 3 kali, saking gak banyak pilihan makan. Banyak etnis tiongkok yang berdagang, panganan-panganan khas entah itu bakpao, kwetiauw dan lain-lain yang kebanyakan mengandung babi. Makin dikit aja kan pilihan makan. Tapi tenang aja, kalo punya temen gak bakal kelaperan. Beberapa kali ditunjukan tempat makan diantaranya Warung Masakan Melayu dan Warung Seafood (kebanyakan seafood di sini mahal). Nah, pas makan di warung Makan Melayu ini nemuin menu yang maknyus tenan. Gule daging, sayurnya semur buah nanas. Gurih-gurih asem manis. Kalo seafood ya standak lah, di Jakarta juga banyak, cuma ada steam ikan salju, itupun gak terlalu suka.
Next, sungai kapuas ternyata baum bau khas, aneh, baru kali ini ada sungai baunya kayak itu. Gak bisa dideskripsikan secara jelas maupun dianalogikan dengan bau duren misalnya. Gak terlalu mengganggu, karna gak tiap hari keluar baunya. Warna sungai gak pernah bening, selalu kuning kecoklatan. Mungkin di hulu sungai sana banyak yang main lumpur, atau hujan terus tiap hari.
Cukup dua minggu di Pontianak, cukup bosen, tapi cukup mencerahkan November kelabu. Sejenak lupa. Lupa sakit.

No comments:
Post a Comment