Aceh, mungkin baru terkenal di dunia semenjak tragedi gempa dan tsunami yang melanda 'negeri serambi mekah' akhir 2004. Segala mata dan perhatian tertuju di kawasan ini dan juga di asia tenggara dan asia selatan. Thailand, Maldives dan beberapa negara terkena dampak tusnami tersebut. Bencana tersebut seakan menghapus sejarah konflik tiada henti antara GAM dan Pemerintah RI. Tak terdengar lagi berita mengenai konflik tersebut.9 tahun berlalu, pertengahan 2013 mungkin sudah tak ada lagi sisa betapa hancurnya Aceh pada masa itu. Bantuan dari seluruh dunia mengalir, bahkan Pemerintah RI membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias guna mempercepat penanganan pasca bencana.
Setiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, kami langsung menuju tempat penginapan, lumayan jauh dari bandara, sekitar 45 menit menyusuri jalan yang kalo boleh dikatakan mulus untuk ukuran propinsi di ujung Indonesia. Sepanjang jalan tak terlalu banyak lalu lalang kendaraan, masih relatif sepi jika dibanding dengan ibu kota propinsi lain di Indonesia. Taxi disini hanya tersedia di bandara, kalo di jalanan Aceh cukup sulit untuk mencari, kebanyakan adanya bentor untuk transportasi umum di dalam kota Aceh.
Jumat malam, pertama kami Masjid Baiturrahman, terletak di pusat kota, dekat Pasar Aceh. Masjid Raya Baiturrahman pertama kali dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M, kelihatan masih berdiri kokoh. Kebetulan pas malam itu sudah tidak ada kegiatan di masjid, praktis hanya beberapa orang yang sengaja mengunjungi masjid sekedar untuk melihat-lihat. Pelataran masjid cukup luas dengan kolam di area taman. Pas malam tesebut masjid sedang dibersihkan, sekitar sepuluhan orang sedang mengepel pelataran masjid. Yang membuat agak kurang nyaman disini mungkin adanya beberapa pengemis yang sengaja meminta-minta. Di jalan sekitar masjid terdapat warung tenda yang mulai menjajakan dagangan mulai selepas ashar. Namun tidak banyak yang khas disini, hanya beberapa warung kopi, mi dan nasi goreng dan sate padang.
Hari sabtu pagi kami sudah merencanakan untuk menyebrang ke Pulau Weh. Dari tempat penginapan berangkat jam 8.30 menuju ke pelabuhan Ulee Lheu. Tiket penyeberangan sebesar Rp60,000,- menggunakan kapal cepat KM Pulo Rondo. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Dan yang bikin ngeri disini, cuaca kadang tak menentu yang mengakibatkan paling ringan si perjalanan kapal menjadi bergejolak, bagi yang gak tahan mabok laut, bisa langsung pening pas turun dari kapal, paling apes ya kapal gak bisa melaut, karena ombak tinggi. Untung pas sabtu pagi ombak lumayan bersahabat.Sampai di KPBS (Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang) kami dijemput kawan kami yang akan jadi guide. Penduduk lokal yang mempunyai darah jawa - batak. Tujuan pertama Kami tentu saja KM 0. Di ujung Pulau Weh. Cuaca lumayan cerah sedikit panas waktu itu, jadi AC mobil seakan gak kerasa.
Perjalanan dari pelabuhan menuju KM 0 bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Jalan berkelak kelok khas pengunungan, namun ini bukan gunung, hanya pinggir pulau yang berbukit-bukit. Jalan kecil sehingga untuk berpapasan dengan mobil lain harus memperlambat laju. Sabang dulu terkenal dengan hasil kelapa, sepanjang jalan banyak terlihat pepohonan kelapa yang menjulang rapi, sengaja di tanam oleh masyarakat Sabang. Menjelang KM 0 suasana sedikit lebih sejuk, karena pepohonan cukup lebat. Satu jam lebih, akhirnya kami sampai di KM 0. Horaiiii. Akhirnya menjejakan kaki juga di Ujung barat Indonesia (tinggal ujung timur, selatan, utara). Cukup ramai juga sabtu siang, gak ada yang istimewa, tapi mungkin karena ini simbol/tugu cukup terkenal jadi banyak orang yang ingin kesini, sekdar poto-poto.
Sekitar 1 jam di kawasan KM 0, puas menikmati pemandangan, puas minum air kelapa, kami pulang menuju Sabang. Kata pemandu kami, Sabang juga terkenal akan spot diving maupun snorkeling. Banyak wisatawan mancanegara yang ke Pula Weh hanya untuk menikmati keindahan bawah laut di Sini. Salah satunya kami ditunjukan salah satu pantai di Pulau Weh, Pantai Iboih. Iboih merupakan daerah favorit untuk berekreasi dan melepaskan penat. Perairan di sekeliling pulau Weh merupakan perairan laut lepas yang diapit oleh Selat Malaka dan Samudra Hindia. Di sekitar pantai Iboih juga terdapat resort-resort dan restoran untuk para wisatawan yang bermalam. Meski tak sempat mencoba untuk sekedar snorkeling, hanya jalan di pantainya saja, namun tak bisa dipungkiri bahwa Iboih itu indah. Bayangkan cuma berenang dibibir pantainya saja karangnya indah banget, ikan warna warni pun banyak berkeliaran. Sayang banget kemaren gak siap-siap buat snorkeling.
Selepas menikmati Pantai Iboih, kami menuju ke Kota Sabang. Gak cukup ramai untuk ukuran ibu kota administratif. Dulu kata orang sini, pelabuhan Sabang ramai bersandar kapal-kapal niaga yang besar, namun sekarang sudah sepi. Tak ada lagi efek dari kebijakan kawasan bebas Sabang. Kalah dengan Batam yang sekarang maju sebagai kota Industri. Setelah makan siang di warung makan (kebanyakan toko di Sabang tutup pada siang hari antara jam 12 s.d. jam 1), kami pulang dengan menumpang KM Pulo Rondo juga. Kali ini di laut cuaca agak bergejolak, terbukti turun dari kapal cepat setiba di Pelabuhan Ulee Lheu langsung pening. Sembari pulang menjuju tempat penginapan kami sempat mengunjungi Kapal PLTD Apung, yang tersapu gelombang Tsunami sampai sejauh hampir 2,5 KM jauhnya dari bibir pantai. Bisa dibayangkan betapa besar gelombang tsunami yang menerjang Aceh, kapal berbobot sekitar 2600 ton bisa terbawa gelombang tsunami. Sayang kami tidak bisa mauk ke dalam, karena jam operasional sudah tutup.
Sedikit saran buat kawan-kawan yang ingin berkunjung ke Sabang, sempatkanlah menginap untuk menikmati Pulau Weh.
Minggu esok pagi, kami sudah janji untuk jalan menyusuri kota Banda Aceh. Ibu Kota Nangroe Aceh Darussalam. Karena ada beberapa alasan, tinggal berdua saja yang keliling Banda Aceh naik bentor. Tujuan utama kami, dan ini satu-satunya yang diketahui, Museum Tsunami. Museum Tsunami Aceh diresmikan mulai senin 10/05/2011 oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf. Bentuknya menyerupai epicenter gelombang laut, terdiri dari 4 tingkat dengan hiasan dekorasi bernuansa islam plus beberapa rajutan saling silang yang mirip tari saman. Museum ini dibangun di atas areal tanah seluas 10.000 meter persegi. Di dalam museum ini banyak terdapat memorabilia terkait dengan tsunami, miniatur tsunami dan juga ada bioskop kecil yang memutar film dokumenter pada saat tsunami menerjang. Banyak banget hal-hal unik terkait tsunami di museum ini, kalo dicritain semua bisa bosen yang baca, datang dan nikmati aja ya...
Di sekitar Museum Tsunami juga terdapat Lapangan Blang Padang. Nah disini ada kapal udara Seulawah. Walapun sekarang hanya berupa sebuah monumen, pesawat Dakota DC-3 RI-001 dengan nama Seulawah yang memang sangat bersejarah. Konon, pesawat yang dibeli oleh rakyat Aceh dan diberikan kepada negara itu merupakan cikal-bakal maskapai penerbangan Indonesian Airways atau yang sekarang dikenal sebagai Garuda Indonesia. Namun, banyak pihak juga yang menolak teori ini dan mengatakan bahwa Garuda Indonesia tidak pernah sama sekali mengoperasikan pesawat Dakota DC-3 RI-001. Tapi yang pasti, Dakota DC-3 RI-001 merupakan sebuah kontribusi rakyat Aceh kepada bangsa Indonesia. Pesawat yang dibeli pada tahun 1948 dibayar menggunakan dana sumbangan berupa 20 kg emas yang dihimpun dari rakyat Aceh. Pesawat dibeli dari seorang penerbangan Amerika Mr. JH Maupin di Hong Kong. Di sekeliling lapangan Blang Padang terdapat tugu nama-nama negara yang telah membantu rakyat Aceh dalam menghadapi masa pasca bencana tsunami dengan ucapan "Terima Kasih dan Damai" dalam bahasa negara tersebut masing-masing.
Di pertengahan minggu setelah kami ke Sabang, pas banget dengan awal bulan puasa. Dan di Aceh ada tradisi unik yaitu Meugang. Tradisi ini di laksanakan 3 kali setahun menjelang puasa ramadhan, menjelang idul fitri dan menjelang idul adha. 2 hari sebelum puasa ramadhan, masyarakat aceh berbondong-bondong ke pasar untuk membeli daging, dimasak, dan dimakan di rumah ramai-ramai bersama keluarga. Cukup unik karena di sepanjang jalan sekitar pasar ada banyak pedagang daging sapi yang berjualan, hampir 2 hari kami melawati jalan yang sama dan setiap pagi selalu ramai pembeli daging. Kami gak sempat mencicipi olahan dagingnya, gak ada yang ngasih.
Mengenai kuliner di Aceh gak terlalu banyak, paling terkenal antara lain ayam tangkap, mi aceh, peuleut (semacam ketan manis dibungkus daun pisang dan dibakar). Tapi yang paling berkesan disini memang kopi. Hampir setiap warga aceh tiada hari tanpa ngopi. Dan kami jadi ketularan seneng ngopi-ngopi di kedai tiap sore. Pulang kantor sekitar jam 5 di Aceh matahari masih terang benderang, masih ada waktu sampai jam 7 malam baru maghrib. Jadi asyik ngopi-ngopi di kedai sambil nunggu maghrib. Kebetulan tempat penginapan kami dekat dengan kedai kopi yang cukup terkenal, Solong dan satu lagi lupa nama kedainya. Hampir tiap sore kami kunjungi. Waktu ramai minum kopi setelah salat Isya/tarawih, pasti kursi kedai kopi penuh, bahkan yang tadinya gak rame, jadi rame. Oiya, ada yang unik disini, martabak telor. Kalo di Jakarta kita kenal martabak telor adonan telornya yang dibungkus kulit martabak, beda dengan di aceh, kulit martabak dipanggang sebentar kemudian adonan telor dilumurkan kedalam kulit martabak yang telah dipanggang tadi.
2 Minggu di Aceh kayaknya masih kurang, padahal sudah merasakan gempa, sampai-sampai SBY sempat datang ke Aceh Tengah (pusat gempa).
Oiya, oleh-oleh juga jangan sampe lupa, Kopi, Dendeng dan lain-lain.






No comments:
Post a Comment